Sabtu, 05 Mei 2012

Keadilan Apa sih?


Pencarian keadilan memotivasi banyak orang untuk melakukan banyak hal, baik positif maupun negatif. Alasan keadilan juga banyak dikemukakan sebagai alasan suatu tuntutan atau menjadi basis argumen dalam sebuah perdebatan. Hal ini membuat saya berpikir: apa sih sebenarnya keadilan itu?
Apakah keadilan berarti sama? Jika saya sama dengan anda, maka berarti adil? Ini adalah maksud yang sering di”cantol”kan dengan kata keadilan. Sebenarnya kita memiliki kata khusus untuk ini yang disebut “kebersamaan”, seharusnya kata ini yang digunakan jika kita mengemukakan konsep keadilan yang sama.
Apakah keadilan berarti perbedaan? Jika memang kita berbeda, tentunya keadilan adalah perlakukan yang berbeda sesuai dengan perbedaannya. Perlakuan lebih perlu diberikan kepada kaum minoritas, sedangkan yang sudah mayoritas yaa biarkan saja. Yang kurang dilebihkan, yang lebih yaa dikurangkan (berbeda khan perlakuannya)
Hakikat arti keadilan seperti ini sebenarnya mirip dengan yang kedua, yaitu ingin sama. kita harus diperlakukan berbeda supaya sama. Padahal perlakuan berbeda itu khan udah tidak sama, jadi pengin adil dengan cara tidak adil? Apakah keadilan berarti “pada tempatnya”? Ada lagi yang saya sering temui, pendapat yang menyatakan bahwa keadilan itu yaa harus dilihat “pada tempatnya”/konteksnya.  Adil bisa berarti sama, bisa berarti beda.
Problemnya adalah kalau udah bicara konteks, berarti tambah persepsi. Kalau diawal hanya persepsi akan arti keadilan berbeda, sekarang ditambah persepsi akan konteksnya. Yaa lumayan lah, dengan konteks, paling tidak mencoba untuk saling mengerti. Hanya saja kalau udah saling mengerti apakah berarti akan saling mau mengorbankan kepentingan? Karena mengerti dan berkorban itu adalah 2 bukit yang terkadang masih memiliki jalan panjang.
Pengertian Keadilan pada hakikatnya adalah memperlakukan seseorang atau pihak lain sesuai dengan haknya. Yang menjadi hak setiap orang adalah diakuai dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya, yang sama derajatnya, yang sama hak dan kewajibannya, tanpa membedakan suku, keturunan, dan agamanya.
Sila kelima pada Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Pada sila ini dijelaskan bahwa keadilan adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Semua rakyat memiliki keadilan yang sama, jika salah katakana salah dan jika benar katakana benar. Tetapi kondisi sekarang telah berubah, katakana salah bagi yang tidak memiliki uang dan selamatkan yang salah dari jerat hokum karena dia memiliki uang. Ini adalah masalah terbesar bangsa, hal seperti ini sudah mendarah daging di Indonesia. Tidak jelas kapan semua ini terjadi, semuanya mengalir begitu saja sampai dengan saat ini yaitu puncak dari ketidakjelasan ideologi bangsa ini. apakah Pancasila masih menjadi akar dari bangsa ini? ataukah hanya menjadi sejarah? Semua ada ditangan rakyat, pemuda. Mulai dari diri kita sendiri, keluarga, lingkungan dan organisasi, jadikan Pancasila sebagai akar kekuatan diri sendiri, keluarga, lingkungan dan organisasi.
Dari penjelasan diatas jelas bahwa Negara kita penuh dengan kecurangan dan keserakahan. Kita sebagai penerus bangsa harus menunjukkan sikap jujur sejak dini sejak duduk dibangku sekolah dengan sikap tidak menyontek, tidak membolos, karena semua itu adalah sikap tidak bertanggung jawab atas diri sendiri dan orang tua yang telah banyak memberikan biaya untuk kita sekolah.
Dibalik kebaikan pasti ada keburukan dibalik sikap jujur pasti ada kecurangan. Kecurangan adalah sifat mendapatkan sesuatu dengan segala cara baik halal maupun haram. Kecurangan dalam kehidupan adalah lawan dari sebuah kejujuran. Manusia bersikap curang untuk memperoleh kepuasan tanpa memikirkan dampak bagi dirinya maupun orang lain.

0 komentar: